Foto keluarga saya My beautiful girl 1 My beautiful girl 2 My beautiful girl 3 My beautiful girl 4
Tampilkan postingan dengan label Dunia Kampus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Kampus. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Mei 2013

UGM Kembangkan Melon Tahan Cuaca Ekstrem




Republika
Kampus UGM Yogyakarta/Ilustrasi
Kampus UGM Yogyakarta/Ilustrasi
A+ | Reset | A-

Laboratorium Genetika Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta mengembangkan melon yang tahan terhadap kondisi cuaca ekstrem yang diberi nama Melodi Gama 3.

"Kultivar Melodi Gama (MG) 3 berhasil dipanen dengan baik, meskipun kondisi cuaca pada akhir-akhir ini kurang kondusif bagi tanaman melon (Cucumis melo L)," kata koordinator tim peneliti Budi S Daryono di Yogyakarta, Selasa.

Hal itu, menurut dia, terbukti saat panen MG 3 di lahan milik Kebun Pendidikan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (KP4) UGM. Potensi produksi MG 3 itu bisa mencapai 40 ton per hektare.

"Hasilnya terlihat bahwa kultivar MG 3 terbukti tahan terhadap kondisi cuaca ekstrem seperti intensitas hujan yang cukup tinggi sehingga dapat menghasilkan panen yang cukup baik," katanya.

Ia mengatakan, intensitas hujan yang relatif tinggi akan berdampak buruk bagi perkembangan tanaman melon dan bisa mengakibatkan gagal panen karena tanaman melon seharusnya cocok ditanam pada musim kemarau.

"Selain di KP4, saat ini MG 3 sedang dilakukan uji multilokasi dan multimusim di daerah dataran tinggi yang terletak di Magetan, Jawa Timur, dan daerah pantai gumuk pasir di Kebumen, Jawa Tengah, untuk mengetahui sifat ketahanannya terhadap perubahan cuaca, hama, dan penyakit tanaman," katanya.

Anggota tim peneliti Rina Sri Kasiamdari mengatakan, kultivar MG 3 memiliki keunggulan lain terutama ketahanan tehadap serangan hama dan penyakit.

Kultivar MG 3 tahan terhadap serangan jamur tepung dan jamur kresek yang sering menyerang tanaman melon. MG 3 juga toleran terhadap serangan penyakit yang disebabkan oleh virus di antaranya kyuri green mottle mozaic virus (KGMMV).

"Kondisi itu memberikan keuntungan bagi petani yakni dapat mengurangi ongkos produksi terutama untuk pembelian insektisida dan fungisida," katanya.

Anggota tim peneliti Tri Joko mengatakan, kultivar MG 3 memiliki warna daging buah oranye yang mengandung beta karoten sehingga cocok bagi kesehatan mata.

"Melon itu juga memiliki rasa manis, aroma harum, dan memiliki daya simpan yang lebih panjang sehingga secara ekonomi akan lebih menguntungkan," katanya.

Menurut dia, penelitian yang didanai Ditjen Dikti Kemdikbud melalui program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) itu akan menghasilkan luaran berupa kultivar melon yang tahan terhadap kondisi cuaca ektrem dan hama penyakit.

"Dengan demikian, dapat mendukung program pemerintah untuk percepatan pembangunan ekonomi Indonesia pada sektor pertanian," katanya.

Presiden SBY Dapat Gelar Profesor Pertahanan



Haji Abror Rizki/Rumgapres
  Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
A+ | Reset | A-
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan mendapatkan gelar profesor pertahanan pertama di Indonesia dari Universitas Pertahanan (Unhan) karena dinilai menguasai bidang pertahanan, sekaligus sebagai pelaku pragmatis di bidang pertahanan.

"Pemberian gelar kepada Presiden Yudhoyono paling lambat pada 2014 mendatang. Gelar profesor pertahanan ini menjadi gelar pertama yang diraih warga Indonesia," kata Rektor Unhan Letjen TNI Subekti, saat melakukan pertemuan dengan media massa di Kampus Unhan, Jakarta, Rabu.

Menurut dia hingga kini belum ada profesor bidang pertahanan di Indonesia, sehingga diharapkan ke depannya profesor di bidang ini bisa diperbanyak agar kualitas pemimpin bangsa ke depan semakin maju.

Pemberian gelar profesor pertahanan kepada Presiden, kata dia, dinilai tepat karena jumlah angka kredit (Kum) untuk menjadi seorang profesor hampir memenuhi syarat. Pasalnya Presiden SBY baru-baru ini juga baru mengajar di Unhan. Bahkan, tercatat sudah mengajar empat kali dalam pertemuan besar.

Selain itu, lanjut Subekti, Presiden Yudhoyono juga sering memberikan arahan-arahan terkait program studi yang diajarkan di Unhan. Bahkan, Presiden tergabung bersama sejumlah profesor dari Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran, Institut Pertanian Bogor, Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga, Universitas Mulawarman, dan sejumlah universitas swasta dalam menggodog program studi pertahanan.

"Pemberian gelar profesor pertahanan terhadap Presiden memang kewajiban Unhan karena beliau sudah sangat expert sebagai pelaku dan praktisi di bidang pertahanan. Beliau juga mendesain kurikulum pascareformasi. Paradigma baru TNI beliau yang menggagas," jelas mantan Direktur Peace Keeping Center atau sekarang disebut Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI.

Presiden juga dinilai berperan menempatkan TNI yang reformis di era demokrasi dan berjasa menempatkan TNI dalam menerapkan tugas-tugas yang berkaitan dengan keputusan politik, sehingga TNI menjadi alat pertahanan negara yang mantap dan disegani bangsa lain serta dicintai rakyatnya.

"Dilihat dari hal tersebut, Kum yang telah dikumpulkan Presiden SBY memang cukup banyak. Tinggal tugas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang nanti menghitung. Mungkin tahun depan Kum-nya bisa terpenuhi dari sekian Kum yang dibutuhkan untuk diberi gelar profesor," jelasnya.

Saat ini, kata dia, Unhan sendiri masih mencetak lulusan master (Strata 2) yang diisi oleh sekitar 70 persen masyarakat sipil, serta 30 persen dari kalangan militer, PNS dan lain-lain. 

Menakertrans Minta Kampus Hasilkan Wirausahawan



Menakertrans Muhaimin Iskandar
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Muhaimin Iskandar kembali mengimbau agar perguruan tinggi untuk dapat menyiapkan lulusannya untuk dapat berwirausaha dan tidak hanya sekedar mengisi lapangan pekerjaan.

"Universitas-universitas di daerah kita harapkan bukan hanya mencetak lulusan sarjana tapi betul-betul menyiapkan skema lulusan yang langsung bisa mengisi berbagai kekurangan kita, baik di pasar kerja maupun kewirausahaan," kata Muhaimin usai menghadiri Dies Natalis ke-14 dan wisuda Program Diploma, Sarjana dan Magister Universitas Garut, Rabu.

Menakertrans berharap agar angkatan kerja lulusan universitas yang tidak bisa diserap di lapangan kerja dengan kompetensi tertentu agar dapat menjadi mandiri. "Mandiri ini tentu pertama secara ekonomi, kedua menjadi bagian dalam 'community development'," kata Muhaimin.

Menakertrans menginginkan agar universitas dapat memperhatikan dan memfasilitasi lulusannya untuk dapat berwirausaha.

"Jadi diharapkan sarjana tidak hanya siap bekerja tapi juga siap menyediakan lapangan usaha bagi masyarakat. (Sarjana) Bukan hanya jadi bagian dari angkatan kerja tapi juga jadi solusi dari masalah ketenagakerjaan kita," kata Muhaimin.

Dalam kesempatan itu, Menakertrans juga menyampaikan orasi ilmiahnya berjudul "Peranan Perguruan Tinggi dalam Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia dan Produktivitas Ketenagakerjaan".

Dalam orasinya, Menakertrans menggarisbawahi masih adanya persoalan dibidang ketenagakerjaan yang membutuhkan penanganan.

Tiga persoalan itu disebut Menakertrans yaitu pertama, angkatan kerja masih didominasi lulusan SD, kedua masih rendahnya kemampuan, kemandirian dan terutama kewirausahaan serta ketiga masih tingginya pengangguran.

Data BPS yaitu Survei Angkatan Kerja Nasional pada Agustus 2012 menyatakan angkatan kerja Indonesia saat ini sebanyak 118,053 juta orang dan yang bekerja sekitar 93,86 persen dan tingkat pengangguran sebesar 6,14 persen atau sekitar tujuh juta orang.

Sedangkan dari angkatan kerja, mayoritas merupakan lulusan SD atau bahkan belum lulus SD sebanyak 48,62 persen dan hanya sekitar 6,3 persen yang tamat universitas.

Menakertrans Minta Kampus Hasilkan Wirausahawan



Menakertrans Muhaimin Iskandar
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Muhaimin Iskandar kembali mengimbau agar perguruan tinggi untuk dapat menyiapkan lulusannya untuk dapat berwirausaha dan tidak hanya sekedar mengisi lapangan pekerjaan.

"Universitas-universitas di daerah kita harapkan bukan hanya mencetak lulusan sarjana tapi betul-betul menyiapkan skema lulusan yang langsung bisa mengisi berbagai kekurangan kita, baik di pasar kerja maupun kewirausahaan," kata Muhaimin usai menghadiri Dies Natalis ke-14 dan wisuda Program Diploma, Sarjana dan Magister Universitas Garut, Rabu.

Menakertrans berharap agar angkatan kerja lulusan universitas yang tidak bisa diserap di lapangan kerja dengan kompetensi tertentu agar dapat menjadi mandiri. "Mandiri ini tentu pertama secara ekonomi, kedua menjadi bagian dalam 'community development'," kata Muhaimin.

Menakertrans menginginkan agar universitas dapat memperhatikan dan memfasilitasi lulusannya untuk dapat berwirausaha.

"Jadi diharapkan sarjana tidak hanya siap bekerja tapi juga siap menyediakan lapangan usaha bagi masyarakat. (Sarjana) Bukan hanya jadi bagian dari angkatan kerja tapi juga jadi solusi dari masalah ketenagakerjaan kita," kata Muhaimin.

Dalam kesempatan itu, Menakertrans juga menyampaikan orasi ilmiahnya berjudul "Peranan Perguruan Tinggi dalam Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia dan Produktivitas Ketenagakerjaan".

Dalam orasinya, Menakertrans menggarisbawahi masih adanya persoalan dibidang ketenagakerjaan yang membutuhkan penanganan.

Tiga persoalan itu disebut Menakertrans yaitu pertama, angkatan kerja masih didominasi lulusan SD, kedua masih rendahnya kemampuan, kemandirian dan terutama kewirausahaan serta ketiga masih tingginya pengangguran.

Data BPS yaitu Survei Angkatan Kerja Nasional pada Agustus 2012 menyatakan angkatan kerja Indonesia saat ini sebanyak 118,053 juta orang dan yang bekerja sekitar 93,86 persen dan tingkat pengangguran sebesar 6,14 persen atau sekitar tujuh juta orang.

Sedangkan dari angkatan kerja, mayoritas merupakan lulusan SD atau bahkan belum lulus SD sebanyak 48,62 persen dan hanya sekitar 6,3 persen yang tamat universitas.

Tak Satu pun Lulusan Diterima UGM, Madrasah Aliyah se-DIY Kecewa


SBMPTN 2013


Kepala Madrasah Aliyah (MA) se-DIY kecewa. Sebab, tak satupun lulusan MA di DIY yang diterima masuk di Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) tahun ini.
Bahkan MA Negeri yang lulusannya langganan masuk UGM-pun juga tidak ada yang diterima satupun. "Ya kami kecewa, kenapa kok tidak ada satupun yang diterima," ujar Kepala MAN I Yogyakarta, Imam Sujangi saat ditemui pada rapat koordinasi madrasah di Asrama Haji Yogyakarta, Rabu (29/5).

Menurut dia, setiap tahun setidaknya ada 20 lulusan madrasah tersebut yang diterima di UGM. Bahkan pada 2012 lalu 25 lulusan madrasah tersebut diterima di UGM. Hanya saja kata dia, tidak satupun lulusannya yang diterima di UGM. 

Padahal kata dia, pada tahun ini dari 230 siswa kelas XII di madrasah tersebut 200 di antaranya didaftarkan pihak sekolah untuk mengikuti seleksi SNMPTN di UGM. Tetapi hasilnya nihil.
"Kita sudah berusaha klarifikasi ke UGM, tetapi belum mendapat jawaban yang memuaskan. Kita mau bertanya apakah kebijakan UGM atau karena memang nilai peserta didik kita kurang," katanya menambahkan.

Dikatakan dia, dari 200 siswa yang didaftarkan melalui SNMPTN tahun ini, 69 siswa diterima di UNY dan UIN Sunan kalijaga. Tetapi tidak ada yang diterima di UGM.
"Kita sudah konfirmasi ke beberapa madrasah di DIY dan ternyata tidak ada satupun yang diterima di UGM, tetapi diterima di UNY dan UIN Sunan Kalijaga" katanya menjelaskan.

Mahasiswa PENS Kembangkan Sistem Coblosan Elektrik



Republika/Prayogi
 Sejumlah warga melakukan pencoblosan pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Barat di salah satu tempat pemungutan suara (TPS) di kawasan Kolong Jembatan Pasupati, Jawa Barat, Ahad (24/2).
Tim mahasiswa Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) menciptakan sistem pencoblosan/suksesi elektronik untuk pemilihan umum, pemilihan presiden, pemilihan kepala daerah, dan pemilihan langsung lainnya.

"Sistem aplikasi yang kami rancang untuk pemilihan calon ketua (caka) dan calon wakil ketua (cawaka) himpunan mahasiswa (hima) Jurusan Teknik Informatika itu kami sebut sistem manajemen suksesi," kata koordinator tim Riza Budi Prasetya di Surabaya, Rabu.

Didampingi Humas PENS Andri Suryandari M.Kom, ia menjelaskan sistem manajemen suksesi yang dipraktikkan dalam pemilihan Caka-Cawaka Hima Jurusan Teknik Informatika dan Teknik Komputer itu menggunakan "software" (piranti lunak) "Microsoft Visual C#".

"Mahasiswa pemilih langsung menyetorkan kartu mahasiswa (KTM) atau smart card kepada panitia pemilihan untuk diregistrasi, lalu dia akan mendapatkan kode validasi sebanyak enam digit semisal r5SN3S dan mengetahui bilik berapa yang kosong," katanya.

Mahasiswa semester 2 Program Diploma-3 Teknik Informatika PENS itu mengatakan pemilih akan masuk ke bilik yang ditunjuk dan menerima tayangan video untuk tutorial bagi pemilih awam dan video kandidat yang tinggal dipilih untuk di-klik.

"Kalau foto sudah di-klik, maka akan muncul kotak untuk memasukkan kode validasi, sehingga data yang sama akan sulit dimasuki dua pemilih atau sering disebut pemilih ganda, karena akan ditolak secara sistem. Kalau sudah ya tinggal ditutup," katannya.

Menurut dia, cara suksesi elektronik itu lebih valid karena foto atau data yang sama atau pemilih ganda akan ditolak secara otomatis, kemudian sistem suksesi elektronik juga menghemat kertas, meskipun pendaftaran secara manual tetap diperlukan untuk data pendukung.

"Kalau pemilihan selesai, maka saksi akan berkumpul dan membuka hasil pemilihan dengan mencantumkan username dan password masing-masing saksi. Kalau saksi ada 10 orang, tapi username dan password yang dimasukkan delapan orang, maka data tidak dapat dibuka," katanya.

Ditanya kemungkinan aplikasi dari sistem suksesi elektronik itu untuk suksesi dalam skala besar seperti pemilihan kepala daerah atau pemilihan umum (pemilu), ia mengatakan penggunaan sistem suksesi elektronik untuk skala besar memerlukan kesiapan yang lebih lama.

"Itu karena suksesi skala besar itu memerlukan perangkat yang lebih banyak, sistem keamanan data yang lebih besar, dan sumberdaya manusia yang paham elektronik. Kalau tidak sesuai syarat, maka akan perlu waktu yang lebih lama, terutama sosialisasi-nya," katanya.

Secara terpisah, mahasiswi Jurusan Teknik Komputer, Fitria, saat dikonfirmasi setelah mengikuti sistem suksesi Caka-Cawaka Hima Teknik Informatika dan Hima Teknik Komputer itu mengaku senang dengan sistem pemilihan secara elektronik itu.

"Dengan sistem elektronik, maka caranya lebih mudah dan memilih dua kali juga tidak bisa, karena data-nya sangat valid," kata mahasiswi semester 4 Teknik Komputer PENS itu.